Rabu, 04 Juni 2014

Petuah Untuk Pemimpin

terik matahari semakin mamanas hawapun terlihat meng iyakan semua untuk sepakat keringkan tanah, sepoi angin membawa debu-debu beterbangan keseluruh penjuru tempat, tak jelas terlihat namun semakin menyakinkan saat beberapa kain pembersih disentuhkan, begitu kotor juga terasa risih
dari bilik yang berbeda terlihat sebuah rumah kecil dari bambu, terlihat asri walau cat-cat mulai mengelupas dari tempatnya, pertanda memang telah lama usia cat yang dipakai. sebuah tempat duduk tanpa kemeja terdapar disamping pintu, tepat mudah untuk didapat saat hendak keluar dan tiduran dieperan rumah, terluskis juga bambu yang telah lama terpakai kehitaman disetiap sisinya, tengah bersih mirip dengan bekas pernis, terlihat berkilau namun kusam. pertanda sering untuk tempat duduk beberapa tamu yang hendak bertemu dengan sang tuan rumah
Rohimah. . . begitu panggilan dari pemilik rumah kecil yang asri namun sederhana, janda tua yang sering memberikan petuah-petuah bagi para tamu, sosok relijius yang masih terlihat asing dalam anganku, karena belum pernah berbincang dengan beliau langsung, sepertinya keingin tahuan tentang beliau akan lebih baik saya berkunjung ketempat beliau. . .
"Assalamuálaikum. . .

beberapa kali salam ku lontarkan,namun terlihat begitu sepi, debu-debu dipelipis jendela masih terlihat tebal, pertanda belum adanya yang rutin untuk membersihkan, lantaipun masih terliha kotor, terlihat lama tidak ada yang membersihkan. bunga-bunga dipot terlihat begitu segar, sejuk dipandang mata, sesekali membuat diriku semakin jatuh cinta dengan suasana. yah mungkin memang asalku dari desa, terlebih kesenanganku adalah menanam tamanan yang kiranya aku suka. sungguh suasana yang mengingatkanku pada desaku.
setelah lama menunggu dan memberikan salam juga tak ada tuan rumah yang keluar, maka akupun segera untuk meninggalkan tempat itu, namun alangkah terperanjatnya, tiba-tiba ada seorang yang setengah baya seraya menjawab salamku. "wa'alaikumsalam"
senyum merekah disudut kedua pipinya yang memang sudah mulai keriput, " ada apa nak" sapa beliau. " maaf bu mengganggu, begini bu, maksud kedatangan saya kesini, pertama dalah silaturahim, yang kedua saya ingin bertanya tentang masalah beberapa keadaan yang tengah ada pada negara kita yang sebentar lagi akan mengadakan pemilihan calon presiden, kira-kira sudikah ibu memberikan pencerahan tentang indonesia, sebab saya yakin ibu paham betul tentang hal itu, karena ibu juga pernah berkecimpung didalamnya.

maaf ya bersambung ...............  he he masih banyak perkerjaan

Senin, 02 Juni 2014

Memilih Pemimpin

Pemimpin 

Pemimpin merupakan hal yang paling dikedepankan dalam sebuah negara, tanpa adanya seorang pemimpin maka, sebuah organisasi akan terasa sangat kocar kacir, bayangkan saja bila suatu negara tanpa seorang pemimpin, maka semua akan berakibat fatal, sana sini akan mengadakan aturannya masing-masing, mungkin saja mereka akan saling mengatur satu sama lainnya. bisa dismakan dengan tubuh manusia tanpa dengan adanya kepala, semua organ yang ada ditubuh tidak akan mampu bergerak sempurna, sebab kepala adalah hal yang paling penting dalam organ tubuh.
seperti halnya negara kita saat ini yang akan mengalami pergantian pemimpin secara berkala, sebab pemimpin yang sekarang ini telah habis masa jabatannya, maka bagi negara yang menganut paham demokratis, hal ini kan menjadi sebuah pergantian pemimpi yang akan membawa negara pada yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.
sebelumnya kita telah mengadakan pemilihan wakil rakyat yang akan mewakili dari beberapa suara rakyat, namun sangat disayangkan beberapa pemilihan wakil rakyat banyak yang menggunakan cara-cara yang kurang baik, bisa kita lihat dalam keseharian sebelum pemilihan wakil rakyat dilakukan, masing-masing partai politik kebanyakan melakukan suap terhadap suara rakyat.
sebaliknya bagi masyarakat yang tidak paham dengan politik, dengan senang mereka menerima uang yang diberikan parpol-parpol yang memang ingin membeli suara mereka.
sangat memprihatinkan keberadaan negara kita saat ini saudara, bagaimana akan maju suatu negara jika penghuninya juga seperti ini.
bagi rakyat yang telah rela suaranya dibeli para parpol-parpol maka janganlah menangis jika mereka meraup kekayaan dari fasilitas yang kalian amanatkan untuk kesejahteraan bersama